Sejarah Berdirinya IMLA Indonesia
IMLA Indonesia lahir dari kesadaran akademik, pedagogis, dan kultural para pengajar bahasa Arab untuk memperjuangkan posisi bahasa Arab, meningkatkan mutu pembelajaran, serta memperkuat jejaring keilmuan bahasa Arab di Indonesia.
1980-an
Awal munculnya gagasan pembentukan asosiasi pengajar bahasa Arab.
1998
Pertemuan awal prakarsa pendirian IMLA di Malang.
1999
IMLA resmi dikukuhkan melalui Muktamar I dan PINBA I.
121
Peserta hadir mewakili perguruan tinggi, MA, dan SMA.
1Latar Belakang Kelahiran IMLA
Bahasa Arab memiliki sejarah panjang di Nusantara. Kehadirannya berjalan seiring dengan masuk dan berkembangnya Islam. Dalam perjalanan sejarah, bahasa Arab tidak hanya berfungsi sebagai bahasa agama, tetapi juga menjadi bagian penting dari ekspresi budaya, keilmuan, pendidikan pesantren, dan kehidupan sosial-keagamaan masyarakat Indonesia.
Banyaknya kosakata Arab yang terserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi salah satu bukti kuat bahwa bahasa Arab memiliki pengaruh besar dalam pembentukan budaya literasi bangsa Indonesia. Namun, dalam perkembangannya, terutama pada masa kolonial hingga periode modern awal, bahasa Arab mengalami penyempitan fungsi.
Bahasa Arab lebih sering diposisikan sebagai bahasa pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi agama Islam. Bahasa Arab dipelajari terutama sebagai alat untuk memahami kitab-kitab keagamaan, bukan sebagai bahasa komunikasi, bahasa akademik, atau bahasa internasional.
2Kegelisahan terhadap Posisi Bahasa Arab
Kegelisahan para pengajar bahasa Arab semakin kuat ketika bahasa Arab belum memperoleh tempat proporsional dalam kebijakan bahasa nasional. Dalam dokumen Politik Bahasa Nasional Tahun 1975, bahasa Arab tidak disebut secara eksplisit sebagai bahasa asing penting di Indonesia.
Bahasa asing yang disebut antara lain bahasa Inggris, Prancis, Jerman, dan Belanda, sementara bahasa Arab hanya dapat dipahami secara implisit dalam frasa “bahasa lainnya”. Hal ini dipandang sebagai bentuk peminggiran bahasa Arab, padahal secara sosiologis bahasa Arab merupakan salah satu bahasa asing yang paling banyak dipelajari di Indonesia.
Semangat Dasar Pendirian IMLA
IMLA lahir sebagai wadah perjuangan akademik untuk memperkuat posisi bahasa Arab, mengembangkan mutu pembelajaran, memperluas jejaring keilmuan, serta menjadi saluran aspirasi para pengajar bahasa Arab di Indonesia.
3Prakarsa Pendirian
Gagasan pembentukan asosiasi pengajar bahasa Arab telah muncul sejak awal tahun 1980-an, terutama setelah diselenggarakannya Seminar Internasional Pengembangan Bahasa Arab di Indonesia yang diprakarsai oleh Universitas Al-Imam Muhammad Ibnu Sa’ud pada tahun 1982 di Jakarta.
Akan tetapi, gagasan tersebut belum berhasil diwujudkan karena belum ada pihak yang secara konsisten mengambil tanggung jawab organisatoris untuk menindaklanjutinya. Prakarsa pendirian IMLA kemudian mulai menemukan bentuk konkret pada akhir tahun 1990-an melalui tokoh penting, yaitu Drs. Ahmad Fuad Effendy dari IKIP Malang.
Ia memandang bahwa pendirian asosiasi pengajar bahasa Arab harus dilakukan secara sistematis, bertahap, dan mewakili berbagai jenis perguruan tinggi. Karena itu, dipilih tiga perguruan tinggi sebagai pemrakarsa awal, yaitu IKIP Malang, UGM Yogyakarta, dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
4Linimasa Pendirian IMLA
Awal 1980-an
Gagasan pembentukan asosiasi pengajar bahasa Arab mulai muncul dalam berbagai forum seminar nasional dan internasional pengembangan bahasa Arab di Indonesia.
Desember 1998 — Pertemuan I di Malang
Pertemuan pertama diselenggarakan di Malang atas undangan resmi Dekan FPBS IKIP Malang. Pertemuan ini dihadiri oleh Drs. A. Fuad Effendy, Dr. Taufiq A. Dardiri, S.U., dan Dr. Syamsul Hadi, S.U., M.A.
22 Maret 1999 — Pertemuan II di Yogyakarta
Pertemuan kedua melibatkan delapan perguruan tinggi dari lima kota di Pulau Jawa, yaitu IKIP Malang, UGM Yogyakarta, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UI Jakarta, IKIP Jakarta, UNPAD Bandung, IKIP Bandung, dan IAIN Sunan Ampel Surabaya.
24–26 September 1999 — Muktamar I dan PINBA I
IMLA resmi dikukuhkan melalui Muktamar I IMLA dan PINBA I yang diselenggarakan di Hotel Air Panas Songgoriti, Batu, Malang.
5Keputusan Penting Pertemuan Yogyakarta
Pertemuan pada 22 Maret 1999 di Yogyakarta menghasilkan beberapa keputusan penting yang menjadi fondasi berdirinya IMLA.
- Menetapkan nama organisasi dalam bahasa Arab, yaitu Ittihadu Mudarrisi al-Lughah al-‘Arabiyah, disingkat IMLA.
- Menyusun draf Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IMLA.
- Menyepakati penyelenggaraan Muktamar I IMLA sekaligus Pertemuan Ilmiah Nasional Bahasa Arab atau PINBA I di Malang pada September 1999.
- Menunjuk Universitas Negeri Malang sebagai panitia pelaksana, dengan melibatkan STAIN Malang dan Universitas Muhammadiyah Malang.
6Muktamar I IMLA dan PINBA I
Puncak kelahiran resmi IMLA terjadi pada Muktamar I IMLA dan PINBA I yang diselenggarakan pada 24–26 September 1999 di Hotel Air Panas Songgoriti, Batu, Malang. Kegiatan ini menjadi tonggak sejarah penting karena pada forum inilah IMLA resmi dikukuhkan sebagai organisasi pengajar bahasa Arab di Indonesia.
Muktamar ini tidak hanya diikuti oleh dosen perguruan tinggi, tetapi juga membuka ruang bagi guru bahasa Arab di pendidikan menengah dan pesantren. Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal IMLA dirancang sebagai organisasi yang inklusif bagi seluruh pengajar bahasa Arab, baik di perguruan tinggi, madrasah, sekolah, maupun pesantren.
Muktamar I IMLA diikuti oleh 121 peserta yang mewakili 45 perguruan tinggi dan 5 MA/SMA. Acara tersebut dibuka oleh Dr. Komaruddin Hidayat, Direktur Pembinaan PTAI, yang hadir mewakili Direktur Jenderal Binbaga Departemen Agama.
7Keputusan Muktamar I IMLA
Dalam Muktamar I tersebut, IMLA menetapkan empat keputusan utama yang menjadi dasar gerak organisasi pada periode awal.
- Mengesahkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IMLA.
- Menetapkan Program Kerja Pengurus Pusat IMLA periode 1999–2002.
- Menetapkan Drs. A. Fuad Effendy sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat IMLA periode 1999–2002.
- Merumuskan rekomendasi strategis muktamar, terutama terkait penguatan posisi bahasa Arab dalam kebijakan pendidikan dan kebijakan bahasa nasional Indonesia.
8Perjuangan Kebijakan Bahasa Arab
Salah satu rekomendasi penting Muktamar I adalah agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa menempatkan bahasa Arab secara proporsional dalam dokumen kebijakan bahasa nasional. IMLA juga merekomendasikan agar Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama meningkatkan posisi bahasa Arab dalam kurikulum sekolah dan madrasah.
Perjuangan tersebut membuahkan hasil penting. Dalam Kebijakan Bahasa Nasional Tahun 1999, bahasa Arab mulai memperoleh pengakuan yang lebih jelas. Bahasa Arab tidak lagi sekadar berada dalam kategori umum “bahasa asing lainnya”, tetapi disebut memiliki fungsi khusus sebagai bahasa keagamaan dan budaya Islam.
Selain itu, bahasa Arab juga memperoleh landasan kebijakan untuk diajarkan sebagai mata pelajaran wajib pada sekolah yang berasaskan Islam, sebagai mata pelajaran pilihan pada sekolah yang tidak berasaskan Islam di jenjang menengah, dan sebagai mata kuliah pada jenjang pendidikan tinggi.
Versi Singkat
IMLA Indonesia berdiri secara resmi melalui Muktamar I IMLA dan PINBA I pada 24–26 September 1999 di Hotel Air Panas Songgoriti, Batu, Malang. Gagasan pendiriannya telah muncul sejak awal 1980-an, tetapi baru diwujudkan secara sistematis pada akhir 1990-an melalui prakarsa Drs. A. Fuad Effendy bersama sejumlah tokoh dari IKIP Malang, UGM Yogyakarta, dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam Muktamar I, IMLA mengesahkan AD/ART, menetapkan program kerja, memilih Drs. A. Fuad Effendy sebagai Ketua Umum PP IMLA periode 1999–2002, dan merumuskan rekomendasi strategis untuk memperkuat posisi bahasa Arab dalam kebijakan pendidikan nasional.
