
Konferensi Bahasa Arab Internasional ke-11 di Dubai: Meningkatkan Kerja Sama dan Pertukaran Pengalaman dalam Pengembangan Bahasa Arab
Dubai, 22 Oktober 2025 – Al-Majlis ad-Dauli lil Lugah al-Arabiyah dan Maktabah Muhammad bin Rashid menyelenggarakan Konferensi Bahasa Arab Internasional ke-11 di Hotel Movenpick al-Bustan Dubai, pada tanggal 22-24 Oktober 2025. Konferensi ini merupakan platform ilmiah, pendidikan, budaya, dan pemikiran internasional yang melibatkan berbagai pihak, seperti universitas, lembaga ilmiah, dan organisasi pemerintah, untuk membahas studi bahasa Arab, kebijakan linguistik, dan inovasi linguistik.
Konferensi ini mengambil tema “Bahasa Arab; Krisis Umat bukan Krisis Bahasa”, yang menunjukkan bahwa masalah utama yang dihadapi oleh Bahasa Arab bukanlah masalah linguistik atau struktural bahasa itu sendiri, melainkan lebih kepada kondisi sosial, politik, dan budaya masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut. Tema ini menekankan bahwa Bahasa Arab memiliki kemampuan dan potensi yang kuat untuk berkembang dan berfungsi sebagai bahasa yang efektif dalam berbagai konteks.

Indonesia menjadi salah satu negara yang berpartisipasi dalam konferensi ini, dengan 6 pakar dalam bidang bahasa Arab yang menjadi pembicara. Mereka adalah Prof. Dr. Uril Bahruddin dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof Dr. Faisal Mubarak dari UIN Antasari Banjarmasin, Prof. Dr. Hanik Mahliyatussikkah dari Universitas Negeri Malang, Dr. Ahmad Tito Rusyadi dari Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. Abdul Azim dari Universitas Negeri Malang, dan Dr. Muhammad Choirin dari Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Prof. Uril Bahruddin mempresentasikan tentang urgensi kamus Arab-Indonesia pada hari kedua konferensi. Dalam presentasinya, beliau membandingkan antara 3 kamus digital; al-Mufid, al-Munawir, dan al-Ma’ani. Prof Uril menekankan pentingnya pengembangan kamus bahasa Arab-Indonesia digital, karena kehidupan manusia sekarang tidak bisa lepas dari dunia digital.
Sementara itu, Prof. Faisal Mubarak menekankan pentingnya kerjasama antar lembaga untuk mengembangkan bahasa Arab di Indonesia. Prof. Faisal menegaskan bahwa pengembangan bahasa Arab tidak bisa dikerjakan oleh sebagian lembaga, apalagi sebagian orang.
Dr. Muhammad Choirin membahas tentang bahasa Arab dan teknologi yang menekankan pada AI atau Kecerdasan Buatan. Sangat mungkin pembelajaran bahasa Arab dikembangkan melalui AI.
Konferensi Bahasa Arab Internasional ke-11 di Dubai diharapkan dapat meningkatkan kerja sama dan pertukaran pengalaman dalam pengembangan bahasa Arab, serta mempromosikan bahasa Arab sebagai bahasa yang efektif dalam berbagai konteks.
Dengan demikian, konferensi ini menjadi platform yang sangat penting bagi para ahli bahasa Arab, peneliti, dan praktisi pendidikan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam mengembangkan bahasa Arab.
UB



