
INTERNATIONAL CONFERENCE ON ISLAMIC STUDIES KE-8 BAHAS PERAN ISLAM DALAM MEMBANGUN PERADABAN MANUSIA
SUKABUMI — Institut Muslim Cendekia Sukabumi bekerja sama dengan Ittihad Mudarris al-Lughah al-Arabiyah (IMLA) Indonesia sukses menyelenggarakan International Conference on Islamic Studies (Incisst) ke-8 pada Sabtu, 16 Mei 2026. Konferensi internasional ini mengangkat tema besar “Peran Islam dalam Mengembangkan Pendidikan, Ekonomi, Hukum, dan Politik untuk Peradaban Manusia”.
Kegiatan ini menjadi ajang strategis bagi para akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara untuk mendiskusikan kontribusi Islam dalam membangun tatanan peradaban yang lebih humanis, inklusif, dan berkeadaban di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
Dalam konferensi tersebut, hadir rombongan IMLA Indonesia yang berjumlah 13 orang. Turut hadir di antaranya Ketua Umum IMLA Indonesia, Prof. Dr. Uril Bahruddin, MA, Sekretaris Jenderal Dr. Faisal Hendra, MA, serta Bendahara Umum Prof. Dr. Faisal Mubarak, MA.
Sebelum konferensi resmi dimulai, acara diawali dengan penandatanganan nota kerja sama antara IMLA Indonesia dan Institut Muslim Cendekia Sukabumi. Penandatanganan ini menjadi simbol penguatan sinergi kelembagaan dalam bidang pendidikan, pengembangan bahasa Arab, penelitian ilmiah, dan penguatan jaringan akademik internasional.

Rektor Institut Muslim Cendekia Sukabumi menyampaikan bahwa kerja sama tersebut diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dalam pengembangan pendidikan Islam dan bahasa Arab yang adaptif terhadap perubahan zaman namun tetap berakar pada nilai-nilai keislaman.
Setelah prosesi penandatanganan kerja sama, Ketua Umum IMLA Indonesia, Prof. Dr. Uril Bahruddin, MA, didapuk sebagai pembicara kunci (keynote speaker). Dalam paparannya yang berjudul “Islam dan Transformasi Peradaban di Indonesia; Menuju Pendidikan, Ekonomi, dan Politik yang Dibangun di Atas Nilai-Nilai Kemanusiaan”, Prof. Uril menekankan pentingnya menjadikan nilai-nilai Islam sebagai fondasi utama dalam membangun masa depan peradaban manusia.
Menurutnya, Indonesia merupakan contoh nyata negara dengan keberagaman agama, etnis, suku, dan budaya yang mampu menjaga harmoni sosial secara berkelanjutan. Ia menyebut bahwa keberhasilan Indonesia dalam merawat kerukunan menjadi model penting bagi dunia internasional dalam membangun peradaban yang damai dan penuh kasih sayang.
“Indonesia telah menunjukkan bahwa keberagaman bukanlah penghalang untuk membangun kemajuan. Justru dengan semangat toleransi, moderasi, dan nilai kemanusiaan universal, Indonesia mampu menghadirkan kehidupan yang damai dan harmonis,” ujar Prof. Uril dalam sesi penyampaiannya.
Ia juga menegaskan bahwa transformasi peradaban tidak hanya bergantung pada kemajuan teknologi dan ekonomi, tetapi juga harus dibangun di atas nilai spiritual, etika, dan kemanusiaan yang kuat. Pendidikan Islam, menurutnya, memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral dan kepedulian sosial.
Konferensi internasional ini turut menghadirkan enam pembicara utama dari berbagai negara, yaitu Indonesia, Arab Saudi, Mesir, Sudan, Yaman, dan Komoro. Kehadiran para narasumber dari lintas negara tersebut memperkaya perspektif peserta mengenai dinamika pemikiran Islam kontemporer dalam berbagai bidang kehidupan.
Salah satu pembicara utama dari Indonesia sekaligus mewakili IMLA Indonesia adalah Prof. Dr. Faisal Mubarak, MA. Dalam presentasinya yang berjudul “Problematika Transfer Konten Budaya dalam Penerjemahan Teks Arab-Indonesia”, Prof. Faisal membahas tantangan penerjemahan lintas budaya antara bahasa Arab dan bahasa Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa penerjemahan tidak hanya berkaitan dengan pengalihan bahasa, tetapi juga menyangkut pemahaman konteks budaya yang melatarbelakangi sebuah teks. Oleh karena itu, dibutuhkan sensitivitas budaya dan pendekatan ilmiah yang komprehensif agar makna yang terkandung dalam teks asli dapat dipahami secara tepat oleh pembaca Indonesia.
Tema konferensi tahun ini dipilih sebagai bentuk upaya memberikan wawasan kepada peserta mengenai urgensi membangun peradaban manusia berdasarkan nilai-nilai universal Islam. Nilai-nilai tersebut mencakup keadilan, persaudaraan, toleransi, kemanusiaan, serta penghormatan terhadap martabat manusia.
Melalui konferensi ini, para peserta diharapkan mampu memperkuat komitmen akademik dan sosial dalam menghadirkan kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat ideal yang damai, berkeadilan, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.
Penyelenggaraan ICIS ke-8 juga menjadi bukti bahwa kolaborasi antar lembaga pendidikan dan organisasi profesi Islam dapat menjadi kekuatan penting dalam membangun jejaring intelektual global demi terciptanya peradaban manusia yang lebih baik di masa depan.
Sukabumi, 16 Mei 2026
Tim IMLA Indonesia



