
Dr. Moh. Yusuf Hidayat Nahkodai IMLA Kalimantan Barat
Pontianak, 30 Oktober 2025 – Suasana Aula Gedung Pascasarjana IAIN Pontianak pada Kamis pagi (30/10) terasa istimewa. 30 dosen, guru, dan pemerhati bahasa Arab dari berbagai lembaga pendidikan di Kalimantan Barat berkumpul dalam satu acara bersejarah: Pelantikan Pengurus Ittihad Mudarrisi al-Lughah al-‘Arabiyah (IMLA) Indonesia Daerah Kalimantan Barat. Acara yang penuh kehangatan dan semangat keilmuan itu menandai babak baru bagi perkembangan pendidikan bahasa Arab di provinsi ini.
Hadir secara langsung Ketua Umum IMLA Indonesia, Prof. Dr. Uril Bahruddin, M.A., yang melantik sekaligus memberikan pembinaan kepada para pengurus baru. Dalam sambutannya, Prof. Uril menyampaikan pesan mendalam tentang esensi mengajar bahasa Arab yang tidak hanya menyentuh aspek kognitif, tetapi juga afektif dan praktis. Ia menegaskan bahwa keberhasilan pengajaran bahasa Arab ditentukan oleh empat kunci utama yang harus dijaga bersama.
Di hadapan para peserta, Prof. Uril menjelaskan dengan gamblang empat kunci penting dalam proses pembelajaran bahasa Arab. Pertama, ujarnya, “dibutuhkan guru yang kompeten dan mau memberi, bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menularkan semangat dan ketulusan”. Kedua, “murid yang bersemangat dan mau belajar, sebab tanpa gairah belajar, ilmu akan sulit menembus hati”. Lanjutnya, kunci ketiga adalah buku ajar yang mudah dan membisakan, artinya buku harus relevan dengan kemampuan peserta didik dan menuntun mereka untuk terbiasa menggunakan bahasa”.
Namun, dari keempat kunci itu, Prof. Uril memberi penekanan khusus pada kunci terakhir, yakni penggunaan bahasa Arab dalam komunikasi sehari-hari (mumārasah al-lughah). Menurutnya, tanpa praktik berbahasa yang konsisten, semua teori dan metode pengajaran akan kehilangan daya hidupnya.
“Meskipun tiga kunci pertama sudah terpenuhi, bila kunci keempat diabaikan, maka bahasa Arab yang telah dipelajari akan hilang perlahan. Penggunaan adalah kunci utama. Bahasa tidak cukup dipahami, ia harus digunakan”, tegas Prof. Uril disambut anggukan para peserta.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum IMLA Indonesia itu juga menyoroti masih banyaknya guru bahasa Arab yang terjebak dalam pola tradisional. Ia menyebut, sebagian guru masih terlalu menekankan pada hafalan kaidah (nahwu) dan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di kelas. Lebih jauh, ia mengkritik fenomena “guru yang mendominasi pembelajaran,” sehingga siswa tidak memiliki ruang yang cukup untuk berlatih berbicara bahasa Arab.
“Kita sering mendapati, yang mahir berbahasa Arab justru gurunya, sementara siswanya tetap tidak bisa. Itu karena guru terlalu banyak berbicara, siswa hanya mendengar”, ujar Prof. Uril. “Guru bahasa Arab seharusnya menjadi fasilitator, bukan pusat pembelajaran. Berikan porsi latihan yang luas untuk siswa, karena belajar bahasa hanya berhasil melalui praktik”.
Pernyataan tersebut mendapat sambutan hangat dari para peserta yang sebagian besar adalah guru bahasa Arab dari berbagai madrasah dan perguruan tinggi. Banyak yang mengaku, pesan Prof. Uril menjadi pengingat penting agar para pengajar berani melakukan inovasi dan keluar dari zona nyaman metode konvensional.
Acara pelantikan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Surat Keputusan dan penyerahan bendera organisasi kepada Ketua IMLA Indonesia Daerah Kalimantan Barat yang baru, Dr. Moh. Yusuf Hidayat, yang juga menjabat sebagai Ketua Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Arab (PBA) IAIN Pontianak.
Dalam sambutannya, Dr. Yusuf menyampaikan rasa syukur atas amanah yang diberikan kepadanya dan menyatakan komitmennya untuk membawa IMLA Kalimantan Barat menjadi organisasi yang aktif, kolaboratif, dan kontributif terhadap pengembangan bahasa Arab di wilayahnya. “Kami ingin menjadikan IMLA bukan hanya wadah akademik bagi dosen, tetapi juga rumah besar bagi seluruh guru bahasa Arab, baik di madrasah maupun sekolah umum,” tutur Dr. Yusuf.



Sebagai bentuk pembaruan struktur organisasi, kepengurusan IMLA Kalimantan Barat kali ini melibatkan secara aktif para guru bahasa Arab dari tingkat MI, MTs, hingga MA. Menurut Dr. Yusuf, pelibatan ini merupakan langkah strategis agar gerakan IMLA menjangkau lapisan paling dasar dari pendidikan bahasa Arab di daerah. “Kalau kita ingin bahasa Arab berkembang luas, maka pergerakannya harus dimulai dari akar: dari madrasah dan sekolah,” tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris IMLA Kalimantan Barat yang baru, Dr. Basse Wahida, menyampaikan optimismenya bahwa sinergi antara akademisi perguruan tinggi dan guru madrasah akan menciptakan ekosistem pembelajaran bahasa Arab yang lebih progresif. Ia menilai, kolaborasi lintas lembaga dan jenjang pendidikan sangat dibutuhkan untuk menjawab tantangan globalisasi dan menumbuhkan minat generasi muda terhadap bahasa Arab.
Acara pelantikan berlangsung dengan khidmat dan ditutup dengan pembacaan doa, disusul sesi foto bersama antara pengurus baru dan tamu undangan. Para peserta yang hadir membawa pulang semangat baru untuk terus berinovasi dalam pembelajaran bahasa Arab.
UB



