
PENGURUS IMLA RIAU HARUS JADI JEMBATAN PROMOSI BAHASA ARAB BAGI GENERASI MUDA
Pekanbaru, 6 Juli 2026 – Kepengurusan baru Ittihad Mudarrisi al-Lugah al-Arabiyah (IMLA) Indonesia Daerah Riau resmi dilantik pada Senin (6/7/2026). Pelantikan yang berlangsung dalam suasana khidmat tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Umum IMLA Indonesia, Prof. Dr. Uril Bahruddin, M.A., sebagai penanda dimulainya masa bakti kepengurusan periode 2026–2030.
Pada periode sebelumnya, IMLA Riau dipimpin oleh Dr. Jon Pamil rahimahullah. Estafet kepemimpinan kini beralih kepada Dr. Yasmaruddin Bardansyah, Lc., M.A., yang dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua IMLA Daerah Riau untuk periode 2026–2030.
Prosesi pelantikan dihadiri oleh para dosen Bahasa Arab, guru Bahasa Arab, pengurus IMLA, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan yang memiliki perhatian terhadap pengembangan pendidikan Bahasa Arab di Provinsi Riau. Momentum ini tidak hanya menjadi seremoni pergantian kepengurusan, tetapi juga menjadi titik awal penguatan peran organisasi dalam memajukan pembelajaran Bahasa Arab di berbagai jenjang pendidikan.
Dalam sambutannya, Prof. Uril Bahruddin menyampaikan apresiasi kepada kepengurusan sebelumnya yang telah memberikan kontribusi bagi perkembangan IMLA di Riau. Ia berharap kepengurusan yang baru mampu menghadirkan energi baru, inovasi, dan program-program yang lebih berdampak bagi kemajuan Bahasa Arab di daerah tersebut.
Secara khusus, Prof. Uril memberikan pesan strategis kepada seluruh pengurus yang baru dilantik agar menjadikan IMLA sebagai jembatan yang menghubungkan sekolah dan madrasah dengan perguruan tinggi. Menurutnya, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi pendidikan Bahasa Arab saat ini adalah masih rendahnya minat lulusan SMA maupun Madrasah Aliyah untuk melanjutkan studi pada Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) maupun Bahasa dan Sastra Arab (BSA).
“IMLA harus hadir sebagai bridging institution yang mempertemukan calon mahasiswa dengan dunia Pendidikan Bahasa Arab. Jangan sampai mereka tidak memilih Program Studi Bahasa Arab hanya karena tidak mengenal prospek, peluang, dan keunggulan yang dimilikinya,” tegas Prof. Uril.
Ia menjelaskan bahwa rendahnya jumlah peminat Program Studi Bahasa Arab bukan semata-mata disebabkan oleh ketidaksukaan generasi muda terhadap Bahasa Arab. Sebaliknya, banyak siswa sebenarnya memiliki ketertarikan terhadap bahasa Al-Qur’an tersebut, namun belum memperoleh informasi, motivasi, maupun pendampingan yang memadai mengenai peluang studi dan prospek karier yang dapat diraih melalui bidang Bahasa Arab.
Karena itu, menurutnya, IMLA Daerah Riau harus mengambil peran lebih aktif dalam melakukan promosi dan sosialisasi kepada sekolah-sekolah dan madrasah. Melalui berbagai program seperti seminar, pelatihan, kompetisi Bahasa Arab, kunjungan sekolah, hingga pendampingan bagi guru dan siswa, IMLA diharapkan mampu membangun persepsi positif terhadap pembelajaran Bahasa Arab.
“Bahasa Arab harus dipromosikan secara masif. Jika kita tidak memperkenalkan keunggulan dan peluangnya kepada generasi muda, maka jangan heran apabila Program Studi Bahasa Arab akan terus menghadapi minimnya peminat. Ini menjadi tanggung jawab bersama seluruh penggiat Bahasa Arab,” ujarnya.
Lebih lanjut, Prof. Uril juga mengajak seluruh pengurus untuk mengubah paradigma masyarakat mengenai pembelajaran Bahasa Arab. Menurutnya, anggapan bahwa Bahasa Arab merupakan mata pelajaran yang sulit harus diubah melalui berbagai inovasi pembelajaran yang kreatif, menyenangkan, dan sesuai dengan karakter generasi digital saat ini.
Ia menegaskan bahwa IMLA Riau harus bangkit sebagai organisasi profesi yang mampu menjadi motor penggerak perubahan. Organisasi ini diharapkan tidak hanya menjadi wadah berkumpulnya para guru dan dosen Bahasa Arab, tetapi juga menjadi pusat kolaborasi, inovasi, dan pengabdian dalam mengembangkan pembelajaran Bahasa Arab yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Mengakhiri sambutannya, Prof. Uril mengajak seluruh pengurus yang baru dilantik untuk bekerja secara kolektif, memperkuat sinergi dengan sekolah, madrasah, perguruan tinggi, serta berbagai lembaga pendidikan lainnya. Dengan semangat kebersamaan tersebut, ia optimistis IMLA Riau mampu membuktikan kepada masyarakat bahwa Bahasa Arab adalah bahasa yang mudah dipelajari, menyenangkan untuk dikembangkan, serta memiliki prospek akademik dan profesional yang sangat luas.
Pelantikan ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan IMLA Daerah Riau dalam memperkuat ekosistem pendidikan Bahasa Arab di Provinsi Riau, sekaligus meningkatkan minat generasi muda untuk melanjutkan studi pada bidang Pendidikan Bahasa Arab maupun Bahasa dan Sastra Arab di perguruan tinggi. Wallahu A’lam



